Jangan Merindu

Tidak sekedar kata kerja
Ia letih dalam kerja
Walau dalam bisu ia bekerja
Orang sebut dia rindu
Fajar menjadi senja
Kata menjadi frasa
Rasa menjadi asmara
Rindu tetap jadi rindu
Dalam rindu ada lugu
Dalam rindu tampak sendu
Dalam rindu muncul biru
Dalam rindu aku masih aku
Hujan turun ke bumi
Menceritakan apa itu jatuh
Ia tak pulang ke langit
Ia tak rindu pada langit
Tapi kini ia bersua pada sang ibu

Puisi ini jauh aku buat sebelum kata rindu jadi hak paten Dilan. Saat aku di puncak homesick, rindu pada semua, apapun itu. Padahal dulu aku merasa jauh dari rumah bukan kendala besar terutama perkara rindu. “Ah jaman sekarang, kan gampang tinggal telpon”. Sesederhana itu dulu aku berpikir. Namun, semakin hari aku menjadi paham. Rindu bukan hanya sekadar tentang telpon-berbicara-tutup telpon. Ada yang tidak bisa diobati hanya dengan via suara atau tatap muka. Semua memori tentang rumah tidak akan kau temui di manapun. Apalagi tentang ibu yang selalu meneriakimu untuk bangun pagi atau ayah yang mengomel jika kita pulang malam.

Pereda rindu itu berupa proses. Saat kita mulai membuat memori-memori baru. Serta keterbiasaan dengan hidup baru. Walaupun begitu, ah, tetap saja. Memori tentang rumah akan selalu muncul menimbun memori baru. Memang, homesick itu berjuta kali lebih berat dari jenis rindu yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s