“Kadar mung ….”

“SMA teng pundi mbak?”

“Teng Semarang pak”

“Walah adoh men, kadar mung SMA”

Ya, obrolan yang kurang lebih semacam itu cukup sering saya dapati. Reaksi saya hanya tertawa kecil.

Kata “kadar mung”(paling hanya) cukup banyak saya temui juga di lingkungan sekitar saya, seperti

“Ngapain dandan, kadar mung ke sini”

“Kadar mung acara kecil kok mau jadi panitianya”

“Gak usah ikut kompetisi A, kadar mung hadiahnya sedikit”

Semalas ini mau menjawab omongan begitu, akhirnya pun cuma disenyumin. Padahal dalam hati, jujur, terasa nyelekit. Kata “kadar mung” inilah yang membuat miris. Kata ini bisa berarti; hal yang kamu lakukan hanya sebatas ini, banyak orang lain yang lebih hebat, kamu tidak begitu hebat, dll.

Sekurang itukah apresiasi sampai meremehkan hal yang sebenarnya penting bagi hidup orang lain? Memang, setiap orang memiliki daya dan prestasi masing-masing. Terkadang kita bukannya memilih menjadi yang terbaik di lingkungan. Cukup menjadi yang terbaik dalam versi diri sendiri. Bukan pula perkara yang dilakukan itu kecil atau besar. Namun, kalau terus-terusan orang lain menekan “versi terbaik kita” pasti terasa jenuh bukan?

Apresiasi dari lingkungan bisa membuat orang lain merasa lebih dihargai. Dan tentu saja, lebih mencintai keputusannya tanpa harus membanding-bandingkan dengan hidup orang lain. Dari banyaknya kosakata, apa salahnya mengganti kata “kadar mung” dengan apresiasi semacam “wah kamu totalitas banget walaupun acaranya kecil”.

Ya kalau enggak bisa memberi kesan yang positif, cukuplah diam. Tanpa harus berbasa-basi yang bersifat negatif dan menjelekkan orang lain. Ingat, setiap orang memiliki versi terbaik dan pilihannya masing-masing. Setiap orang pula memiliki alasan untuk berada pada jalur hidupnya.

Dan jika budaya meremehkan ini masih berlanjut, maka tidak akan ada lagi yang namanya totalitas dari dini atau hebat dari kecil. Yang ada orang-orang akan mengutuk dirinya sendiri dan mencoba berbelok mengikuti perkataan orang lain. Gampangnya, jadi mudah disetir.

Hargai orang lain dengan memberi apresiasi positif sekecil apapun, bukan dengan menjatuhkan. Saya juga sedang berusaha memutus budaya komentar “kadar mung” atau semacam itu (yang terdengar meremehkan) untuk terciptanya lingkungan yang lebih sehat. Karena saya sendiri sudah lelah di-kadar mung-in hehee.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s