Tentang Cantik

Ada fase di mana setiap liat cermin, banyak komentar yang terlintas;
“Kok rahang bawahku kemunduran”
“Kok pipiku chubby banget”
“Kok wajahku bulet banget”
Dsb.
Hal ini juga terjadi saat ngeliat foto-foto saat kumpul yang barusan dikirim temen di grup. Berasa, “wah fotoku yg jelek kayak gini diliat temen-temen di grup, ah.

Kata orang-orang, masa SMA adalah masa ketika kamu mengkhawatirkan semua itu. Yap, dan itu yang terkadang terjadi pada saya. Dan parahnya, saya mengalami hal ini dari SMP sepertinya. Ketika teman-teman dulu berkomentar tentang jerawat saya yang gede-gede ataupun postur tubuh saya yang dibilang aneh. Komentar mereka ini saya bawa hingga SMA, rasa cemas ketika melihat diri sendiri. Terlebih ketika melihat orang seusia saya tampak anggun dan modis, cantik pastinya. Saya bahkan sempat meyakini bahwa “orang cantik 50% masalahnya sudah tertangani”. Karena saya merasa ah enak ya jadi cantik, bisa gini gitu dengan gampangnya.

Namun semakin hari makin banyak artikel tentang body shaming yang bermunculan. Makin banyak pula campaign tentang body postivity, yang pastinya menarik untuk dibaca bagi kaum minderan seperti saya. Salah satunya video Gita Savitri di Beropini eps. 9

“Narsis itu lebih sehat daripada harus terus-terusan mencari kekurangan diri kita.”

Hati saya tersentil, untuk apa saya terus-terus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan? Toh semakin beranjak dewasa, hidupmu tidak ditentukan oleh penilaian orang lain.

Hidup bukan hanya perkara soal tampang. Seperti salah satu kutipan favorit saya di film Wonder

“We all have marks on our face. This is the map that shows where we’ve been and it’s never, ever ugly.” – Isabel

Yap, manusia tidak ada yang terlahir dan hidup menjadi orang jelek. Semua adalah tanda proses hidup dan memang begitulah cara Tuhan menunjukkan kebesaranNya.

Saat SMA saya semakin bersyukur karena berada di lingkungan sehat dan sedikit demi sedikit mengurangi penyakit saya. Dan hal yang paling membekas ketika jerawat besar tumbuh di hidung dan saya berusaha menutupinya. Apa yang mereka katakan? Mereka malah memarahi saya, berkata bahwa jerawat sangat wajar di masa SMA. Untuk apa menutupi sesuatu yang ada dalam dirimu?
Tidak bermaksud membandingkan, tapi dulu saya selalu dicemooh bila jerawat ini tumbuh. Akibatnya pandangan orang lain lah yang membuat saya berusaha menjadi orang lain dan menutupi apa yang ada pada diri saya. Yap, lingkungan sangat berpengaruh membentuk pola pikir saya tentang berbagai hal.

Sekarang saya bersyukur bisa mengubah bagaimana cara pandang saya terhadap kecantikan. Cantik bukan berarti harus mulus mancung tirus. Bagaimana orang lain melihatmu adalah cerminan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri. Saya juga sedang dalam proses menyembuhkan penyakit “mendewakan rupa”. Semoga semakin dewasa, saya menjadi orang yang 100% mencintai dan menerima diri sendiri. Untuk kamu yang juga sedang masa penyembuhan, tetap konsisten. Kita semua sedang berjuang bersama, memperbaiki sistem sosial tentang beauty standard yang selama ini salah pada diri sendiri dan lingkungan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s