Payah

Jika kutuliskan satu nostalgia, sebongkah buku pun tak mampu berkisah bahkan hingga klimaksnya sekalipun. Ku tuturkan dalam sinema drama, yang ada slotku membunuh jutaan mata.

Selagi ku ingin melantas cerita, rasanya terlalu sulit. Bahkan aku tak tau kata atau frasa apa untuk paragraf pertama. Aku juga tak tau harus menggunakan pronomina mana. Aku tak tau bagaimana untuk mengawali dialognya. Yang ada, aku hanya bermonolog dalam batin.

Aku takut, nantinya terlalu banyak ironi yang tersirat. Mungkin juga kiasku terlalu monoton, lupa sarat akan sastra. Aku juga takut kalau nantinya si lakon utama tak berakhir dengan bahagia. Bisa saja dalangnya mati di tengah kulminasi. Padahal, yang ku harap cerita romansa sesak akan afeksi.

Intinya, aku hanya tak tau bagaimana caraku memulainya lagi, agar tersisip kata ‘kita’ lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s