Hijab, sekadar kain?

Pernah dengar tentang wanita-wanita di Iran mengkampanyekan tentang #nohijabday dan terang-terangan menentang aturan pemerintah tentang kewajiban penggunaan hijab? Mereka menuntut hak wanita untuk bebas memilih pakaian dengan dalil feminism.

Oke, di sini bukan feminism yang akan aku bahas. Tapi kalau ditanya, gimana sih pendapat ku tentang wanita-wanita Iran ini, yang mereka melepas hijab di tempat umum dan bahkan ada yang membakar hijab mereka. Kalau dibilang setuju, aku bilang no! Penduduk Iran 98% nya beragama Islam, pemerintah Iran mengeluarkan aturan itu karena mereka bermisi menjadikan Iran sebagai negara Islam. Yang berarti juga bukan tanpa sebab Iran melarang wanita membuka hijabnya, karena sebenarnya Islam sangat menuntut agar wanita menutup auratnya, terutama rambut. Melihat wanita-wanita ini menenteng dan membakar hijab di tempat umum, sebagai wanita muslim, cringe dude. Kain yang mungkin dianggap sepele(di Indonesia saja hanya sekitar 30 ribu), tapi bagiku itu adalah kain kehormatan yang menunjukkan harga diri agamaku. Oke, mungkin bagi sebagian orang akan terdengar “yaelah, baperan lu” “fanatik amat sih cuma masalah hijab” “ukhti lebay”. But, seriously sepanjang hidup diajarkan tentang agama lalu aturan agama yang sangat dipercayai dan dihormati ini dibakar begitu saja rasanya “why people so disrespecting?”

Tapi kalau dibilang berarti aku menolak gerakan wanita-wanita Iran ini, no, aku juga tidak sepenuhnya menolak. Tidak semerta-merta menyalahkan wanita Iran yang menuntut kebebasan berpakaian (padahal jelas 100% muslimah diwajibkan berhijab).

Dari kecil aku sudah menggunakan hijab. Istilahnya, sudah dibiasakan dari kecil. Entah, aku pun ragu dulu benar mantap tentang hijab atau “sekadar kebiasaan”. Saat memasuki masa SMP, melihat teman-teman berpakaian modis, dengan hijab tidak menutup dada, lengan 3/4, di pikiran anak 13 tahun rasanya itu keren, toh yang penting berhijab (padahal aku tau persis bahwa seharusnya muslimah menutup auratnya dengan benar). Akhirnya ada rasa memberontak, terbawa arus mode jaman segitu. Padahal juga sering mendapat teguran orang tua masalah pakaian ku yang tidak syar’i. Tapi saya menentang dengan alasan, “aku udah besar, aku juga mau keliatan keren kayak teman-teman” lol. Sungguh pikiran labilku saat itu pendek banget hmm.

Padahal nih, jika lebih dipahami lewat ajaran Islam, hijab bukan perkara keren atau tidak dan juga bukan hanya “sekadar kebiasaan”. Hijab ini menjadi aturan paten dalam agama dan menjadi cerminan iman dan patuh pada ajaran Islam. Lebih tepatnya, hijab itu bukan sebatas kain. Sayangnya, banyak yang lupa tentang makna sesungguhnya hijab.

Hal ini sebenarnya sama dengan aturan di Iran. Pemerintah Iran mewajibkan untuk berhijab, tapi konten di sini lebih ke aturan negara, bukan aturan agama. Hijab hanya dilihat sebagai aturan negara tak berdasar, dan tentunya hanya sekadar kebiasaan, meninggalkan hakikat apa sebenarnya hijab itu. Kurang adanya pemahaman alasan dibalik aturan negara (yaitu aturan agama), menjadi penyebab utama penolakan kewajiban berhijab.

Memaksakan “keimanan” seseorang dengan dibalut aturan negara, menimbulkan banyak tekanan. Tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka yang memilih hidup/kepercayaan untuk tidak menggunakan hijab. Jika terus dipaksa atas dasar aturan negara, makna dari agama itu akan luntur dan lebih diyakini sebagai “aturan duniawi” ketimbang perintah Allah. Memang, urusan hijab dan agama ini menjadi urusan pribadi. Kita tidak bisa semudah itu mengubah pandangan orang lain terhadap agama mereka. Yang penting, bagaimana kita sama-sama mengajak dan belajar menjadi yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s