Memendam selamanya?

Menghitung detik, sampai mata tak nampak lagi memandang.
Sebelum waktu mengejar rindu, izinkan aku berkata sebongkah bait.
Tentang sesuatu yang malu-malu bersembunyi di balik lubuk.
Ia memerah saat kau bertingkah manis sekaligus tak waras.
Tentang mimpi-mimpiku yang kau singgahi tiap malam tuk sekadar berucap sepintas.
Tentang kau yang merenggut angan tiap detiknya.
Hingga akhirnya aku berhenti berharap.
Cerita yang beralur monoton, letih terus-terusan bermain dengan emosi tak berdialog.
Aku butuh jeda.
Dan ku pikir, sebelum persis terpisah jarak.
Meskipun dari awal kita memang jauh, sangat.
Hanya satu yang ingin ku tuturkan.
Terimakasih, aku pernah menyukaimu.
Akan ku sampaikan besok, janji.

Dustaku malam ini, menopengi rasaku yang pemalu terlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s