Curhatan Seorang Kawan

“Seberapa besar kau mencintai dirimu sendiri?”
“60%”

“Kemana 40% nya?”
“Dia ada di saat-saat tertentu. Ketika aku mengutuk diriku sendiri yang tak banyak bicara. Ada jeda panjang di tengah obrolan. Bukan. Bukan karena pemalu. Aku hanya, entah. Aku tak begitu suka banyak berkata. Lebih memilih diam dan mendengar. Aku benci aku yang seperti itu. Jika pun suruh memilih, aku tak mau seperti itu. Karena orang jadi menganggap aku tak ada. Tatapan mereka juga tak jarang merendahkan. Tidak menyenangkan, kata mereka. Aku benci, aku jadi banyak kesepian.”

“Bagaimana dengan 60% mu?”
“Ia selalu di sini. Bahasa kerennya, self positivity. Kalau aku menyebutnya surviving. Bertahan. Bertahan dari rasa beban, keterpurukan, dan kesepian. Meskipun ada banyak yang bisa kukutuk tentang diriku. Tapi aku percaya, dengan mencintai diri sendiri adalah usaha membahagiakan diri sendiri pula. Aku sudah melakukan yang terbaik, ujarku tiap saat. Meskipun terkadang terdengar memaksa dan sulit. Tapi inilah caraku tetap hidup, hatinya.”

“Mengapa baru 60%?”
“Aku sedang berusaha. Targetku agar meningkat menjadi 70%”

“Kenapa tidak 100%?”
“Hmm, entahlah. Aku tak yakin. Terlalu sulit mengubah hal yang selama ini kukutuk.”

“Tapi kau bisa mencintai kesendirian.”
“Haha, ya aku mencintainya. Tapi aku tak bisa mencintai kesepian.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s