Menyair tentang Ibu

Sepasang tangan mendorong asaku menerawang mega
Dengan perkasa menunggu ku menjamah dirgantara
Selalu kuat menyeka payah
Meski terlampau penat menopang raga

Ada pula pundak yang selalu siap
Menyingsingku tuk menjadi lebih dan lebih semampai
Di barisan akbarnya jutaan gedung menjulang
Tapi tetap ruang pundaknya
Ialah satu loka terbaik tuk mencapai titik

Lisan menyertai liku dan bengisnya bentala
Doa terlantun di tiap detik dan lini masa
Parang digdaya yang menghela jiwaku pada senantiasa
Sebagai prolog dan epilog dalam selaras napas detaknya

Sepasang telapak tangan pula
Membentang lebar di selamanya sisi
Mengulur saat aku tersungkur melucuti deru pilu
Sedia membawaku tuk menapak dengan kedua kakiku

Ada mata jiwa telinga rupa rasa dan semua
Yang selalu ada
Untuk kita dan keluarga
Ialah rumah dan sebaik-baiknya tempat pulang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s